Kamis, 07 Agustus 2008

UUUGGGHHH...

Berawal dari aku yang seorang pengendara sepeda motor yang hari-harinya harus melalui jalan-jalan

kota

untuk sebuah tujuan yang mulia, yaitu kantorku. Asal tahu aja,
kota

yang sahari-harinya aku lewati selalu penuh dengan debu dan asap kendaraan busuk yang udah tidak layak pakai di era modern sekarang ini. Kendaraan-kendaraan bejat yang tidak peduli akan kesehatan orang lain dan keadaan bumi ini yang semakin membusuk karena dibiarkan begitu saja oleh penghuni-penghuninya yang dikenal dengan sebutan manusia.

Manusia-manusia inilah yang kelak berpotensi besar menjadi penguasa utama untuk menghancurkan bumi tercinta ini. Bumi tempat aku bisa hidup, seandainya saja aku bisa hidup di planet lain seperti planet “Damsih” alias damai dan bersih (ngarang banget ya?), aku pasti akan memilih tinggal disitu, karena aku tak perlu repot dan “enek” melihat tingkah laku manusia lainnya yang super hina karena telah menghancurkan bumi ini. Paling tidak kalau saja aku tinggal di “Damsih”, aku akan melindunginya dan memberikan pelajaran bagi keturunan-keturunanku di “Damsih” bagaimana pentingnya melestarikan tempat hidup mereka, seperti halnya mereka melindungi dan menjaga rumah mereka.

Kembali ke bumiku, para veteran perang 45 sekarang banyak dan semuanya mengatakan kalau buminya ini sudah tidak sesejuk dulu lagi, tidak sebersih dulu lagi. Dulu mereka bisa menghirup udara dengan segar walau kadang mereka menghirup udara mesiu. Dulu masih belum banyak terdapat kendaraan bermotor berasap bejad itu. Dulu masih banyak pengendara sepeda yang lebih dicintai bumi. Karena sepeda tak perlu mengeluarkan asap untuk bisa berjalan layaknya penyemprot nyamuk dari pemerintah (namanya apa ya?gw lupa, mungkin bias disebut ga’ tau hehehe..).

Memang tidak bisa dihindari kalau apa yang dipunyai oleh bumi bakalan terus berkurang demi kepentingan dan kelangsungan hidup para manusia, termasuk aku tentunya. Tapi apa mereka bisa mengembalikan ataupun membuat lagi apa yang telah mereka ambil dari bumiku ini? Apakah mereka cuma bisa mengambil saja? Apakah mereka sadar kalau anak cucu mereka juga membutuhkan apa yang dimiliki bumi itu? Masihkah adakah sisa-sisa yang dimiliki oleh bumi itu untuk kehidupan ke depan? Atau mungkin mereka sadar tapi mereka tak peduli? Semua itu belum bisa terjawab, seandainya aku bisa menjawab, aku akan menjawab “meneketehe…”.

Tapi mereka tak peduli akan kehidupan yang selanjutnya itu, yang mereka butuhkan sekarang adalah bagaimana caranya bisa mengumpulkan uang laknat itu sebanyak-banyaknya dengan cara apapun, tanpa peduli akibat terjelek yang timbul dan bisa membuat yang lain tercekik.

Saat ini pikiranku terfokus pada jalan-jalan

kota

tempat aku tinggal. Jalanan
kota

itu bisa membuatku stres berat! Bagaimana tidak, bayangkan debu dan asap mobil di jalanan udah seperti lotion di wajahku. Tidak jarang di suatu jalanan terdapat kepulan asap di udara yang meliahnya saja bisa buat aku sesak dan merinding, mengalahkan hantu seremnya, belum lagi pengendara motor yang seenak “pelernya” aja mengendarai motornya ditambah lagi pengemudi angkot yang sudah terkenal sejak tempo doeloe kebrutalan dan kebiadabannya dalam mengemudi. Yang ku heran, apa mereka enjoy dengan keadaan itu? Apa mereka sadar bahwa debu dan asap itu bisa merusak kesehatan mereka? Apa mereka sadar bahwa cuma gara-gara asap itu kecerdasan generasi-generasi manusia ini akan berkurang? Aku rasa mereka tak peduli akan semua itu, yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana dengan kendaraan busuk itu mereka bisa keliling
kota

dengan
gaya

yang mentereng dan bias dibilang “norak”. Kalau menurut aku sih tidak lebih seperti seorang pangeran atau putri yang menggunakan delman yang penuh dengan kotoran kudanya. Lalu bagaimana dengan kecelakaan-kecelakaan yang terjadi hampir setiap harinya di atas aspal? Memang bener kata orang kalo otak kita (orang
Indonesia

) tuh harganya paling mahal sedunia, mau tau kenapa? Karena otaknya masih orisinil man!!! Alias ga’ pernah dipake!!!. Apakah hal-hal seperti ini pantas dijadikan panutan bagi generasi-generasi penerus kita? Jawab itu manusia bangsat!!!

Sekarang lumayan sulit melihat langit biru dari tempatku berpijak (karena aku sedang terfokus pada tai anjing yang aku injak hehehe…b’canda ding) karena udah tertutup polusi dan sekarang ini asap kebekaran hutan. Banggakah aku atas semua itu? Tidak!!! Aku tidak bangga berada di tempat yang aku pijak sekarang. Tidak ada satupun yang aku banggakan dari sini, lihat saja para panglima-panglima bumi yang berkuasa di daerahnya, yang mereka tahu hanya bagaimana caranya supaya jabatan mereka sebagai panglima bisa dipertahankan dan tidak jatuh ke tangan manusia bejat lainnya yang tak kalah bejatnya dibandingkan mereka.

Tidak ada komentar: